Tak Suka "Tas Pemberian Mertua", Aku Kasih ke Sepupu! 2 Hari Kemudian, Aku Nyesel!

Aku kenal suamiku pas kuliah. Kita pacaran 6 tahun lebih. Kedua orang tuaku punya sebuah perusahaan, sedangkan mertuaku punya usaha kerajinan tangan yang cukup terkenal di tempatnya. Latar belakang keluarga suami sangat baik.

Setelah menikah, aku dan suami beli rumah lagi dan tinggal berdua. Meskipun bisa tinggal di rumah mertua, tapi aku sedikit canggung untuk tinggal 1 rumah. Rumah kami dan ibu mertua tidak jauh, cuma sekitar 5-6 km saja. Demi menjaga tali silaturahmi, aku dan suami selalu makan di rumah mertua 3-5 kali seminggu.

Aku tidak begitu suka ngobrol lama sama ibu mertua, juga tidak ingin menghabiskan waktu lama dengannya sendirian karena beberapa klien yang ditemuinya itu memiliki mulut yang ember alias hobi gosip dan ibu mertua juga sudah sama seperti mereka. Bicara ataupun melakukan sesuatu pasti agak sombong. Kalau ngomong sudah seperti orang yang mengerti banget atau sudah mengalaminya, padahal belum. Bener-bener gak nyaman berada di samping ibu mertua.

Beberapa waktu lalu adalah hari ulang tahun pernikahan aku dan suami. Sehari sebelumnya, ibu mertua meminta aku dan suami datang ke rumah untuk makan bersama. Padahal 3 hari sebelumnya, aku dan suami sudah sepakat untuk makan berdua romantis di hari ulang tahun pernikahan kita. Aku pun bilang sama ibu mertua kalau kami tidak bisa hadir dan si ibu mertua langsung tidak senang dengan berkata, "ngapain pake acara rayain ikut-ikutan orang gitu? Kalau kalian gak dateng besok, lain kali gak usah dateng lagi!"

Saat itu, aku merasa sedikit marah juga, aku pun berdebat sama ibu mertua, "mama udah umur berapa? Gak bisa disamakan dengan kita dong, mama tau arti romantis gak sih? Kita tuh udah pesen tempatnya, gak bisa dibatalin." Ibu mertua pun langsung menutup telponnya.

Kemudian, aku dan suami kembali berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk tetap ke rumah mertua supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih dalam lagi. Suami juga mengingatkanku untuk tidak berdebat dengan ibu mertua lagi. Sebenarnya, kata-kata itu sudah membuat aku sedikit menyesal, setelah beberapa saat, kekesalanku sudah mulai reda dan setuju dengan ajakan suami.

Sebelum kesana, aku memilih beberapa hadiah berharga untuk ibu mertua supaya nantinya lebih enak di sana.

Sesampainya di rumah ibu mertua, dia terlihat sangat senang melihat kami datang. Hanya saja aku melihat tatapannya sedikit aneh terhadapku. Selesai makan, ibu mertua juga tidak mengungkit masalah di telpon waktu itu. Saat aku membantu ibu mertua mencuci piring, ibu mertua mulai berbicara padaku lagi.

"Yun, mama beliin kamu tas, nanti mama kasih ya, mudah-mudahan kamu suka."

Ibu mertua tidak sinis lagi terhadapku dan malah memberikanku hadiah. Hatiku langsung hangat seketika, kalau bukan karena canggung, mungkin aku akan langsung memeluknya.

Tasnya dibungkus dengan kotak, aku gak berani buka di depan ibu mertua dan beliau juga tidak menyuruhku untuk membukanya disana. Pas sampai di rumah, aku langsung gak sabaran buat buka kado itu. Bagi wanita, tas adalah barang yang disukai.

Tapi, tas yang ada di dalam kotak itu membuatku kecewa karena model tas itu lebih cocok buat orang seusia ibu mertua. Aku sedikit tidak senang, apakah ibu mertua gak tahu aku umur berapa? Tentu tidak kan. Jangan-jangan dia masih marah karena telepon waktu itu, jadi dia berikan tas ini untuk membalasku. Aku pun langsung melempar tas ini ke dalam lemari.


Seminggu kemudian, kakak sepupuku datang ke rumah, aku gak sengaja menumpahkan jus jeruk ke baju kakak, jadi aku menyuruh kakak untuk mengambil pakaian ganti dari lemariku. Selesai berganti, kakak mengeluarkan tas yang diberikan ibu mertua, dia bilang dia sangat suka dengan tas itu, aku tidak tahu kenapa dia bisa suka sama tas itu, jadi aku pun bilang, "kalau suka ya ambil aja."

Malamnya, kakak sepupu meneleponku dan bilang bahwa ada hadiah pernikahanku dari mertua yang belum dikeluarkan dari tas itu. Ternyata di dalam tas itu masih ada gelang yang harganya tidak murah.

Keesokan harinya, kakak sepupu mengantar gelang itu ke rumah. Di dalam kotak gelang itu ada sebuah kartu yang isinya: "selamat hari ulang tahun pernikahan! Mama tau kemarin sedikit gak enak ngomongnya pas di telpon, ini ada hadiah buatmu. Waktu kalian menikah, mama gak belikan apa-apa, semoga kamu suka ya!"

Setelah membaca kartu itu, aku merasa malu dengan diriku. Kenapa aku terlalu negatif terhadap ibu mertua. Setelah menerima barang ini, aku segera menelpon ibu mertua, "ma, aku minta maaf!"


Cerita di atas hanyalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan peristiwa, maka itu murni ketidaksengajaan. Semua gambar yang dipakai juga hanyalah ilustrasi saja. Pesan positif dari cerita di atas: janganlah mudah menghakimi seseorang karena kita tidak menyukainya, apalagi itu orang tua, sudah seharusnya kita hormati.

Sumber: lifebldaily