Jarang-jarang Diajak Makan Atasan, "Cara Makannya" Malah Bikin Ia Dipecat!

Banyak perusahaan menggunakan cara "makan" untuk menghangatkan suasana dan sekaligus "mengetes" karyawannya. Mengetes? Memangnya apa yang bisa dites?


Sponsored Ad

Selain bisa merilekskan pikiran kita, cara makan kita akan mencerminkan sikap dan karakter kita. Jangan sampai salah bertindak atau tidak sopan, karena hal itu akan berpengaruh pada pandangan orang-orang terhadapmu.

Sponsored Ad

Suatu kali seorang bos mengundang tamu penting dari perusahaan lain untuk makan bersama. Untuk meramaikan suasana, bos pun memanggil 2 orang karyawan yang baru lulus kuliah. Karena tamu penting itu berasal dari daerah Selatan, dimana masakannya lebih hambar, maka bos sengaja memesan makanan yang sesuai dengan selera tamu penting itu. Kedua karyawan baru itu berasal dari ibu kota yang masakannya lebih berat dan pedas, karena itulah mereka tak hentinya mengeluh dan bermuka masam. Bos tentu saja tidak senang, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun memesan 2 menu masakan khas ibu kota yang lebih berat rasanya.

Sponsored Ad

Siapa sangka, setelah 2 menu itu disajikan, kedua karyawan itu terus meletakkan sayur itu di hadapan mereka dan "menguasainya".  Mereka tak hentinya makan dan mengatakan "hanya 2 masakan ini yang enak". Setelah pulang dari restoran, bos tanpa babibu lagi langsung memecat dua karyawan baru itu.

Sponsored Ad

Seorang pemuda bernama Beni meraih cumlaude di universitasnya. Ia lalu dengan optimis mengajukan lamaran di perusahaan bergengsi. Karena kemampuannya sangat baik, ia pun berhasil lolos 2 tahap seleksi pertama dengan lancar. Sampai saat diundang untuk datang ke tahap seleksi ketiga, ia sangat kaget karena ia dan kandidat lainnya hanya diajak makan bersama dengan para HRD. 

Sponsored Ad

Selama acara makan, ia yakin sekali gerak-geriknya sangat sopan dan bertatakrama. Namun yang berhasil lolos sampai tahap terakhir ternyata bukan dia. Karena tidak terima, ia pun bertanya kepada para HRD yang bertugas.

Jawaban yang didapatnya sangat mencengangkan. Beni memang sangat cerdas dan berpotensi, namun saat makan bersama, tak pernah sekalipun ia mengucapkan "terima kasih" kepada para pelayan.

Sponsored Ad

Dari 2 cerita di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa tata krama saat makan sangatlah penting. Ada orang yang pernah berkata, cara pria memperlakukan pelayan adalah cara pria akan memperlakukan istrinya. 

Sponsored Ad

Walaupun kedengarannya berlebihan, namun tidak peduli saat makan bersama atasan ataupun keluarga, caramu memperlakukan pelayan restoran akan mencerminkan karakter, kesopanan, dan EQmu. 

Sponsored Ad

Menyalahkan pelayan atau mengancamnya agar pesananmu bisa cepat datang TIDAK AKAN bisa mempercepat datangnya pesananmu.

Orang yang berEQ tinggi akan menggunakan cara halus seperti dengan mengatakan, "Nona cantik, kamu begitu cekatan, pasti bisa dong mengantarkan pesanan kami lebih cepat lagi? Terima kasih!" 

Pujian dan ucapan terima kasih akan membuat sang pelayan lebih bersemangat untuk melayanimu.

Sponsored Ad

Saat makan adalah saat kita bisa menunjukkan kemampuan kita menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, dan saat kita bisa belajar menghargai perasaan orang lain. Kita seharusnya memilih restoran yang cocok dengan semua hadirin, memilih menu masakan yang cocok dengan selera orang lain, dan sebagainya.

Seorang guru tatakrama pernah berkata, saat dia mengundang tamu untuk makan bersama, dia akan mengikuti kecepatan makan para tamu. Sebelum tamu selesai makan, ia tidak akan menurunkan sendoknya. Karena sekali tuan rumah menyelesaikan makannya, para tamu tidak akan berani melanjutkan makan. Itulah sikap toleransi yang harus ditunjukkan saat makan.

Etiket bukan berarti mematuhi aturan secara bulat-bulat. Kebanyakan aturan yang berlaku hanya akan membuat suasana menjadi dingin dan terlalu formal.

Seorang penyanyi Jepang bernama Fujiwara bercerita bahwa saat dirinya mengundang tamu untuk makan di restoran makanan barat, tamunya berkata, "Makan pakai garpu dan pisau sungguh merepotkan."

Fujiwara yang selalu makan dengan garpu dan pisau langsung memberikan sumpit kepada tamu dan berkata, "Sebenarnya saya lebih suka pakai sumpit."

Bagi Fujiwara, etiket bukanlah berarti harus mematuhi aturan secara bulat-bulat. Etiket adalah tindakan yang tidak membuat lawan makan kita merasa tidak enak/ tidak senang.

Sumber: life.beeper

Kamu Mungkin Suka