Mirip Cerita KKN Desa Penari, Ini 5 Fakta Siswa SMK yang Hilang 9 Tahun Lalu, Diculik Badarawuhi?

Beberapa hari terakhir, kasus 3 siswa SMK hilang 9 tahun menjadi perbincangan publik.

Orang tua salah satu korban, Riswanto Hadiyasa, menceritakan awal mula anaknya, Agiel Ramadhan Putra, menghilang selama 9 tahun.

Sponsored Ad

Menurut penuturannya, 3 siswa SMK yang hilang selama 9 tahun ini belum diketahui bagaimana nasibnya sampai sekarang.

Agiel sendiri merupakan siswa SMK N 1 Sanden, Bantul, Yogyakarta.

Lantas apa sajakah fakta yang berhasil terkuak?

Simak ulasan Tribunstyle di bawah ini.

1. Kronologi Awal

Sponsored Ad

Menurut Riswanto, kala itu Agiel masih kelas 2 SMK.

Putra tercintanya tersebut akan berangkat Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Riswanto dan puluhan orang tua siswa lainnya pun turut diundang ke sekolah guna mendapatkan sosialisasi.

Dalam sosialisasi tersebut, Kepala Sekolah SMK N 1 Sanden, Ahmad Fuadi mengatakan bahwa PKL yang resmi sebenarnya dilaksanakan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Hanya saja, PKL juga dilaksanakan di Tanjung Benoa, Bali, selama tiga bulan dengan alasan tempat tersebut merupakan pelabuhan internasional.

Sponsored Ad

Dalam sosialisasi tersebut, pihak sekolah juga memperkenalkan orang bernama Mugiri yang menurutnya sebagai guru pembimbing.

Namun, belakangan diketahui bahwa Mugiri merupakan calo tenaga kerja.

Pada 31 Desember 2009, anak Riswanto diminta untuk mengurus KTP ketika hendak berangkat PKL ke Bali, padahal waktu itu usianya masih 16 tahun.

Karena sudah percaya pada sekolah, Riswanto pun merelakan anaknya melaksanakan PKL tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.

Sponsored Ad

2. Dijual oleh Calo

Beberapa bulan berselang, Riswanto menerima surat dari PT Sentra Buana Utama tertanggal 2 Maret 2010, memberitahukan bahwa KM Jimmy Wijaya tempat Agiel bekerja hilang kontak per 6 Februari 2010 pukul 04.00 WIT.

Sponsored Ad

Disebutkan juga bahwa Agiel mulai bekerja pada 27 Februari 2010.

Mengutip dari Kompas.com, "Saya percaya itu PKL, dapat surat ditujukan kepada saya orang tua, dalam surat itu lost contact. Di situ saya kaget, kok di sini dapat dari PT, setahu saya anak lagi PKL," katanya saat dihubungi, Selasa (3/9/2019).

Riswanto lantas menelepon perusahaan yang memberikan surat tersebut lalu menanyakan soal PKL.

Rupanya, Agiel dan teman-temannya disalurkan calo untuk bekerja di kapal.

Sponsored Ad

Pihak perusahaan pun mengaku masih mencari keberadaan kapal tersebut.

Riswanto akhirnya mendatangi sekolah tanpa terlebih dahulu memberitahukan tentang kejadian hilangnya kapal yang ditumpangi anaknya.

Sponsored Ad

Ketika ditanya soal PKL, kepala sekolah bilang baik-baik saja.

"Waktu itu dijawab baik-baik saja. Saya tanya kerja di mana anak saya, dan dijawab baik-baik saja. Surat (dari perusahaan) saya banting di meja, begitu baca gemeter," ucapnya.

Saat itu Riswanto menanyakan mengenai PKL yang ternyata dipekerjakan oleh perusahaan.

Akhirnya ia berangkat ke Bali untuk mendapatkan kejelasan mengenai nasib anaknya.

Awal pencarian, ia sempat mengalami kesulitan sampai akhirnya bisa bertemu dengan perusahaan.

Sponsored Ad

Riswanto mendapatkan bukti kontrak kerja, dan pihak perusahaan mendapatkan tenaga kerja dari calo ke calo.

Perusahaan sendiri menerima mereka bekerja karena memiliki KTP yang diketahui palsu.

"Dalam kontrak kerja itu enam bulan, ternyata anak saya sudah teken (tanda tangan). Intinya anak saya tidak mengetahui," ucap pria yang saat ini mengaku tinggal di Jakarta.

3. Tak Mendapat Kepastian Hampir Satu Tahun

Sponsored Ad

Setelah mendapatkan bukti-bukti kuat soal penipuan, Riswanto pun melaporkan ke pihak kepolisian.

Namun, hingga hampir satu tahun kasus tersebut tidak jelas ujungnya.

Riswanto mendatangi Kementerian Hukum dan HAM, hingga menghubungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

4. Guru dan Kepala Sekolah Divonis Bebas

Berkat usaha kerasnya, kasus tersebut akhirnya bisa ke ranah persidangan.

Surat tembusan dibuat ke Polda Bali dan Polda DIY.

Hasil persidangan menyatakan bahwa kepala sekolah dan guru divonis bebas.

Adapun Mugiri yang sempat disebut sebagai guru pembimbing adalah seorang calo tenaga kerja, ia dijatuhi hukuman penjara.

5. Sempat Minta Pulsa

Sementara itu Samsiah, ibu Ginanjar Nugraha Atmaji, koban lain siswa SMK yang hilang saat magang, mengatakan anaknya sempat berkomunikasi dengannya.

Kala itu Ginanjar mengabarkan kalau dirinya sedang berada di wilayah laut sekitar Maumere.

Selain itu, Ginanjar juga sempat meminta pulsa pada ibunya.


Sumber: LINE TODAY

Kamu Mungkin Suka