​Padahal Anak Semata Wayang, Artis Vicki Zhao Malah "Tega" Suruh Anaknya Lakukan Ini!

Banyak orang tua enggan menyuruh anak mereka melakukan pekerjaan rumah karena 'sayang'. Tapi artis Vicki Zhao punya cara sendiri dalam mendidik anaknya yang patut ditiru orang tua Indonesia!

Sponsored Ad

Vicki Zhao mengungkap bahwa ia menyuruh putrinya, April Huang (9 tahun), mengerjakan pekerjaan rumah seperti cuci piring, membuat pangsit dan lain sebagainya guna melatih keterampilannya dan menumbuhkan karakter mandiri dan berbakti.

Sponsored Ad

Di Eropa dan Amerika Serikat, para orang tua juga sudah membuat anak-anaknya turut mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak usia dini.


Sponsored Ad

Hasil studi di Universitas Harvard menunjukkan bahwa anak-anak yang suka melakukan pekerjaan rumah tangga memiliki tingkat pengangguran 15 kali lipat lebih rendah, tingkat kriminal 10 kali lipat lebih rendah, pendapatan 20% lebih tinggi dan pernikahan jauh lebih bahagia dibanding anak-anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Survei di Tiongkok juga menunjukkan bahwa anak-anak yang melakukan pekerjaan rumah tangga memiliki nilai yang lebih tinggi di sekolah hingga 27 kali lipat dibanding anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Sponsored Ad

Keluarga Rockefeller yang super kaya di Amerika sudah kaya 7 turunan, makmur dari generasi ke generasi dan semuanya berhasil. Mereka juga mewarisi aturan keluarga yaitu mengerjakan pekerjaan rumah dan mengatur keuangan sendiri sejak dini.

Sponsored Ad

Elaine Chao, Menteri Transportasi AS ke-18, juga demikian. Bersama keempat saudaranya, ia dididik oleh ayah mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengatur keuangan sendiri sejak kecil. Tak heran ia bisa sukses dan menjabat sebagai orang penting di pemerintahan AS.

Sponsored Ad

Semua contoh di atas membuktikan 1 hal:

Pekerjaan rumah tangga yang tampaknya sederhana dapat menentukan 'kesuksesan anak di masa depan'!

Sponsored Ad

Berikut ini manfaat melakukan pekerjaan rumah untuk anak-anak:

1.Meningkatkan perkembangan tulang dan otak

Dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak jadi dituntut untuk aktif dan bergerak. Sama seperti olahraga, perkembangan otak dan tulang anak akan ikut ter4ngs4ng dan pertumbuhan mereka jadi lebih cepat dan optimal baik secara fisik maupun mental.

2.Mengembangkan rasa tanggung jawab

Dengan melakukan apapun sendiri, anak akan memiliki kesadaran untuk mandiri sejak usia dini. Mereka jadi tidak berharap orang lain melayani mereka, tapi mereka bisa inisiatif melayani kebutuhan sendiri, atau bahkan orang lain.

Sponsored Ad

3.Mendapatkan pengalaman

Dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak akan dilatih untuk bekerja dan berpikir, berhadapan dengan hal, situasi atau orang yang berbeda. Tentu saja, dari situ anak jadi belajar, mendapatkan ilmu dan pengalaman. Tapi orang tua juga perlu mer4ngs4ng minat, mendidik dan memberikan saran, bukan memaksa atau memerintah karena sama saja belajarnya tidak akan optimal.

Sponsored Ad

4.Jadi lebih pintar dalam mengerjakan sesuatu

Seperti kata pepatah, semakin sering dilakukan, pekerjaan akan terasa semakin mudah. Jika sudah terbiasa mengerjakan sesuatu, anak tentunya jadi lebih pintar dan pekerjaan jadi cepat selesai. Jika sudah terbiasa bekerja, maka pekerjaan lain pun bisa dilakukan dengan cepat dan mudah.

Bagaimana jika anak-anak tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah?

1.Mulai dari hal-hal kecil

Cobalah menyuruh anak-anak membersihkan kamar mereka sendiri, menaruh pakaian di tempat cuci, membereskan mainan dan sebagainya.

2.Memberi pujian

Setiap anak pasti senang jika dipuji orang tua. Berilah anak pujian atau acungan jempol ketika mereka selesai mengerjakan sesuatu, dengan begitu anak akan merasa senang dan lebih percaya diri.

3.Izinkan anak membuat kesalahan

Yang namanya anak kecil, apalagi baru pertama kali, pasti bisa berbuat salah. Orang tua harus sabar dan membimbing mereka. Jangan mengkritik dan memarahi mereka karena efeknya malah sebaliknya, anak jadi tidak peduli dan tidak mau tahu.

4.Ubah pekerjaan rumah tangga menjadi menyenangkan

Anggap pekerjaan rumah tangga seperti sedang main game, "Hayo kita lomba, siapa yang paling cepat masukin semua mainan ini ke dalam dus? Satu dua tiga!" Dengan begitu, anak jadi terpacu dan merasa seperti sedang bermain, bukan mengerjakan PR rumah tangga.

5.Jangan menjadikan pekerjaan rumah sebagai hukuman atau hadiah

Banyak orang tua menjadikan pekerjaan rumah tangga sebagai hadiah atau hukuman, misalnya menyapu 1 kali dapat 10ribu, atau kalau nilai ujiannya dibawah 90 harus cuci baju. Cara ini akan membuat anak jadi membenci pekerjaan rumah tangga.

Tentu saja, pekerjaan rumah tangga yang bisa dilakukan oleh anak harus disesuaikan dengan usianya, dibagi sebagai berikut:

Anak usia 3-4 tahun: Buang sampah, beresin mainan, melipat baju, membereskan meja belajar, mengelap debu, memilih pakaian yang dikenakan sendiri dan lain-lain

Anak usia 4-7 tahun: Menyiapkan pakaian untuk besok, beresin tas sendiri, barang yang sudah dipakai dikembalikan ke tempatnya, mengelap meja dan lain-lain

Anak usia 6-8 tahun: Membereskan lemari pakaian sendiri, menyiapkan keperluan sekolah, beresin kamar sendiri, menaruh peralatan makan di wastafel dan lain-lain

Anak usia 7-9 tahun: Cuci piring, menyedot debu, masak yang gampang-gampang didampingi ibu dan lain-lain

Anak usia 10 tahun ke atas: Cuci baju pakai mesin, mengangkat jemuran dan melipat baju, bantu ibu beres-beres rumah dan lain-lain

Orang tua seharusnya membiarkan anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga dari kecil. Hanya dengan begitu, anak baru bisa tumbuh mandiri dan terlatih untuk hal yang lebih besar. Kebiasaan dapat menuai kesuksesan, jadi tidak usah takut anak tidak bisa atau masih kecil. Dari sini, anak akan belajar untuk mandiri, bertanggung jawab, jadi lebih percaya diri dan lebih siap untuk terjun ke masyarakat nantinya. Anda tentu ingin memiliki anak yang sukses dan membanggakan, bukan? Sekaranglah saatnya! Sayang anak bukan berarti memanjakannya, menyuruhnya tidak usah melakukan apa-apa! Akan jadi apa anak besar nanti?

Sumber: coco