Jeblosin Mertua ke Panti, Suami Ceraikan Aku! Tapi, Mertua Malah Terima Kasih Padaku?!

Aku dan suami sudah menikah selama 5 tahun dan sudah dikaruniai seorang putri. Ayah mertua sudah tiada semenjak suami masih kecil. Adalah ibu mertua yang membesarkan suamiku seorang diri, jadi suamiku adalah anak kesayangan.

Sponsored Ad

Sebelum menikah denganku, suami sudah memberitahuku untuk harus berbakti pada ibunya. Aku dan suami tinggal di ibukota provinsi. Setelah putri kami masuk TK, aku dan suami mencari pekerjaan. Jadilah, ibu mertua tinggal sendirian di rumahnya. Bukan kami tidak mau tinggal serumah, tapi ibu mertua sendiri yang gak nyaman tinggal di rumah kami yang kecil dan merasa kesepian karena gak ada teman sebaya yang bisa diajak mengobrol.


Sponsored Ad

Setiap kali baru datang 2 hari, ibu mertua selalu ribut minta pulang. Awalnya suami gak setuju jika ibunya harus tinggal di rumah lama seorang diri, lagipula kalau tinggal sama kami kan bisa bantu jaga cucu dan gak kesepian, kami juga bisa menjaga ibu. Tapi, ibu mertua tetap maksa pulang, jadi kami mengalah dan mengantarnya pulang ke rumah lamanya.

3 bulan berlalu, tetangga di kampung menelpon dan membuat kamu terkejut. Kami pun segera pulang kampung mencari ibu mertua. Sesampainya di rumah, kamu baru sadar bahwa ibu mertua yang sudah berusia 68 tahun ini gak sengaja terjatuh saat sedang memasak nasi karena penglihatannya sudah mulai berkurang. Dapur terb4kar dan untungnya tetangga melihat asap hitam dari luar rumah dan segera membantu memadamkan api.

Sponsored Ad


Melihat kejadian ini, suami menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga ibunya dengan baik. Akhirnya, ia pun memaksa ibunya untuk tinggal di kota sama kami. Tapi, mau kita bujuk gimana pun, ibu mertua tetap gak mau. Terpaksa kita harus izin kerja beberapa hari untuk mengurus ibu sampai sembuh. Melihat wajah ibu mertua yang putus asa membuat suamiku jengkel, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Sponsored Ad

Aku bawa anakku pulang karena aku masih harus kerja, aku gak bisa lama-lama menemani ibu mertua. Suami juga harus kerja demi kelangsungan hidup kami. Tapi, kini ibu mertua keras kepala tidak mau tinggal di rumah kami. Ini membuat aku dan suami merasa kesusahan, tapi juga gak berani memaksa ibu untuk setuju. Tapi, membiarkan ibu sendirian di rumah juga gak mungkin. Aku gak peduli omongan tetangga dan teman-teman, yang paling penting, luka di kaki ibu mertua belum sembuh, hidup sendirian pasti sulit.

Sponsored Ad


Tiba-tiba aku teringat dengan panti jompo yang ada di ibukota provinsi. Panti itu dekat sama tempat kerja kita. Kadang kalau lewat sana, aku suka melihat-lihat sebentar, kondisi para lansia di sana sangat memprihatinkan. Rata-rata mereka punya anak, namun anak-anaknya pada sibuk jadi cuma bisa mengirim orang tuanya ke panti jompo. Tapi, sekarang gak ada pilihan lain lagi, kalau dibawa ke panti jompo, pasti ada yang urus ibu mertua dan ibu mertua pasti gak kesepian karena ada banyak teman-temannya.

Sponsored Ad

Aku pun mendiskusikan hal ini pada suami, tapi suami malah marah. Suami bilang bahwa kita aja gak urus ibu masih bisa mikir mau kirim ke panti jompo, ini sama aja kita memutus hubungan dengan ibu.

Sponsored Ad

Aku tetap memaksa untuk mengirim ibu mertua ke panti jompo, tapi suami tidak. Kami pun terlibat perang dingin. Waktu cuti kami sudah hampir habis, tapi ibu mertua masih belum sembuh, suami pun makin panik. Aku pun memberitahukan ide ke panti jompo pada ibu mertua dan langsung ditolak olehnya. Ibu mertua berpikir bahwa kami tidak mau urus dirinya lagi, merasa dirinya adalah beban untuk kami.

Tapi, kita harus kerja, malam harus jaga anak dan ibu mertua gak mau tinggal sama kami, kami benar-benar gak bisa urusin beliau terus. Aku pun memanggil mobil panti jompo untuk menjemput ibu mertua secara paksa. Setelah berada di panti jompo, ibu mertua terus menangis, aku pun sedikit menyesal, tapi ini demi kebaikan kami semua. Aku menarik suamiku keluar dari panti jompo.

Sponsored Ad

Sesampainya di rumah, suami terus menuduhku men*nggalkan ibunya dan membuang ibunya. Gara-gara masalah ini, aku perang dingin dengannya selama hampir setengah bulan! Bahkan suami minta cerai dariku.

Sponsored Ad

Sebulan kemudian, kami sekeluarga mengunjungi ibu mertua di panti jompo. Aku awalnya berpikir mungkin ibu mertua akan merengek minta pulang, tapi ternyata gak sama sekali! Ibu mertua tersenyum menyambut kedatangan kami. Setelah dilihat dari dekat, ternyata ibu mertua sudah menemukan kebahagiaannya, ia jadi lebih semangat dan wajahnya tampak kemerahan. Ternyata kehidupan ibu mertua di panti jompo sangat baik.

Aku bertanya pada ibu mertua apakah mau pulang? Ibu mertua menolak dan mengatakan bahwa ia sangat senang berada di panti jompo. Mungkin awalnya ia menolak karena takut tak terbiasa dan lain sebagainya, tapi pada akhirnya ia sangat suka tinggal di sini. Ada yang mengurusnya, banyak teman dan semuanya sangat baik padanya. Bahkan ibu mertua pun berterima kasih padaku karena sudah dibawa ke panti jompo.

Mendengar cerita ibu mertua, aku dan suami pun tertawa. Setelah melihat 3000an panti jompo, rasanya pilihan kami sudah tepat. Aku dan suami akhirnya sepakat untuk mengunjungi ibu setiap hari.

Sumber: foyuan

Kamu Mungkin Suka