Aku Marah Jika Nilai Ujian Anakku Bukan 100! Namun "Kondisinya Sekarang", Bikin Aku Menyesal!

Saat ini, banyak orang tua mungkin menghadapi masalah: Jika anak-anak tidak memuaskan harapanmu, apakah kamu harus memarahinya atau membiarkannya begitu saja?


Sponsored Ad

Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah era kecemasan untuk semua orangtua. Beberapa orang tua selalu hidup dalam ketakutan, bahkan rasa takut yang berlebihan sepanjang harinya. Khawatir bahwa anak itu akan berada dalam bahaya, khawatir bahwa anak akan menjadi nakal, khawatir bahwa anak salah pergaulan, dll.

Namun, kita sering mengabaikannya. Sementara orang tua cemas, banyak anak juga jadi menderita:

Sponsored Ad

Mama, ketika hasil ulangan dibagikan, saya tidak berani menunjukkannya pada mama, tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa menyembunyikan kertas itu.


Sponsored Ad

Ma, saya hanya mendapat nilai 91. Namun di kelas saya terdapat 18 siswa mendapat nilai yang sempurna. Terakhir kali saya mendapat nilai 90, dan saya menunjukkan kertas ujian pada mama, mama langsung mengerutkan kening, melebarkan mata dan bertanya “berapa banyak temanmu yang mendapat nilai sempurna di kelas?”


Sponsored Ad

Saya mengatakan bahwa 16 siswa telah mendapatkan nilai sempurna. Lalu mama sangat marah dan berkata “Bagaimana kamu begitu bodoh? Teman-teman lain bisa mendapat nilai yang sempurna. Kok kamu gak bisa? Orang guru kalian sama kok!”

“Bukankah semua pertanyaannya mudah untuk dijawab? Kamu itu anak mama bukan sih?”


Sponsored Ad

Dan pada saat saya mau menunjukkan ujianku lagi pada mama, saya pasti akan kena marah lagi. Saya pasti tidak akan mendapat uang jajan dan tidak dibolehi untuk menonton lagi.

Ma, saya tidak tahu mengapa saya begitu bodoh, apakah saya benar-benar bodoh? Seperti yang mama katakan, guru kami memang sama, tapi mengapa perbedaannya begitu besar? Toh saya sudah belajar sebaik mungkin.

Sponsored Ad

Sekarang setiap kali mengikuti ujian, saya pasti selalu takut dan minder, mungkin saya memang anak yang bodoh!


Sponsored Ad

Mama demi aku bisa bersekolah di sekolah yang baik, mama rela berganti pekerjaan dan menyewa kosan untuk menemaniku. Saya tahu mama sudah bersusah payah dan membayar harga terlalu banyak untukku.

Tetapi ma, apakah mama tahu bahwa setiap malam, ketika saya lelah menulis pekerjaan rumah dan berdiri sebentar untuk istirahat,pasti mama selalu bertanya “Pr sudah dibuat belum? Kerjain dulu sampai beres, baru istirahat!”

Sponsored Ad


Padahal saya hanya ingin minum sebentar atau ingin buang air saja. Saya merasa seperti terus diawasi. Setiap harinya saya harus menurut setiap perkataanmu. Saya merasa sangat lelah, saya merasa belajar jadi tidak menarik.

Sponsored Ad

Mama selalu mendesakku untuk mengerjakan Pr lebih cepat lagi, padahal saya sudah mengerjakan secepat mungkin.

Ma, saya selalu bilang aku anak yang malas, tapi setiap hari saya pergi kelas bahasa Inggris, piano, seni, dll.


Saya hanya bisa menonton TV sebentar setelah pulang dari kelas. Jika sudah makan, saya harus mulai mengerjakan Pr sampai jam 11 malam baru selesai. Jika ada ujian, saya tetap harus menulis ringkasan.

Mama selalu berkata “jika kamu tidak dilatih bekerja keras, kamu besar mau jadi apa? Mau sama seperti papamu?”

Sejujurnya saya tidak tahu apa yang terjadi ketika saya bertumbuh dewasa. Tapi nenek selalu bilang bahwa saya adalah anak yang pintar dan baik.


Masalah yang sering dialami orangtua adalah mereka tidak bisa menerima bahwa anak-anak mereka akan menjadi orang biasa di masa depan. Makanya orangtua selalu menge-push dan menjadikan anak seperti cita-cita dan harapannya.

Hidup itu seperti perlombaan maraton, tidak penting untuk berdiri di baris pertama atau baris kedua saat berada di garis start. Bahkan setelah berlari 10.000 meter, siapa yang berada di posisi pertama atau kedua, belum menjamin bahwa ialah yang akan mencapai garis finish duluan.


Cara  belajar yang intensif tidak dapat memastikan bahwa kelak ia akan menjadi orang sukses dan hebat. Karena pada dasarnya tidak ada standar tersendiri untuk mencapai kesuksesan. Seorang juru masak yang baik mungkin belum tentu kecilnya ahli dalam matematika, seorang bisnisman belum tentu kecilnya ahli dalam akutansi.

Yang disebut orang paling sukses pastilah sangat sedikit, sebagian besar adalah orang biasa. Tetapi apakah orang-orang biasa tidak bisa bahagia?

Faktanya saat ini kita banyak menganggap orang adalah orang biasa, tetapi justru merekalah orang yang sangat optimis dan bahagia. Jadi kesuksesan seseorang belum menentukan kebahagiaan seseorang.

1. Anak kena marah jika mengerjakan Pr terlalu lama


Seorang guru bernama Wu adalah guru kelas 1 SMA. Ia mengharuskan muridnya untuk membaca 3 kali bacaan, sambil mencatat waktunya. Karena anak itu tidak suka belajar, dan membaca sangat pelan. Maka guru Wu sengaja memintanya membaca berulang-ulang. Anak itu membaca sambil menangis, namun lama kelamaan emosinya menjadi semakin buruk. Akhirnya ia berlutut di hadapan guru Wu dan memintanya untuk menghentikannya.


Sejak kejadian itu Guru Wu menceritakan pengalamannya pada wartawan, hatinya hancur, dan sejak saat itu ia berjanji tidak akan memaksa muridnya untuk belajar dengan sistem yang sama. Karena semua anak itu berbeda, mereka punya sistem belajarnya masing-masing!

2. Anak-anak jaman sekarang tidak hanya hidup di mata orang tua mereka, tetapi juga hidup dalam berbagai kelompok kelas dan guru, karena itu hampir setiap saat mereka sedang dibandingkan.


Hal yang paling membuat cemas orangtua bukanlah anak orang lain jauh lebih luar dari anaknya sendiri, tapi hal itu bisa membuat anaknya sendiri merasa “ah saya hanyalah anak biasa-biasa saja! Ngapain juga harus bekerja keras?”

Oleh karena itu orangtua harus melawan mentalitas “jangan pernah membandingkan kelemahan anak dengan kekuatan anak orang lain. Terimalah setiap keunikan anakmu, dan cobalah temukan kelebihan atau ‘emas’ dalam diri anakmu!”


Pendidikan terbaik bukan untuk mendesak anak untuk belajar, tetapi mengarahkan bakat dan minat anak. Cara menemukannya dengan membiarkan anak-anak menemukan kepuasan dalam minat mereka

Mari kita singkirkan kecemasan kita, dan memilih untuk menemani anak-anak kita untuk tumbuh dewasa. Pilihlah untuk melepaskan daripada mendesak anak untuk tidak menjadi dirinya sendiri dan hidup tidak bahagia.

Sumber: Lookinfoward 

Kamu Mungkin Suka