Lewat Mimpi, Pengangguran Ini Nekad Menjual Mobilnya Untuk Membeli Kostum Spiderman Seharga 19 Juta, Tak Disangka Alasan Dibaliknya Bikin Haru!

Pada awal tahun 2014,Ricky Mena berada di titik keuangan terendah dalam hidupnya. Ia numpang tidur di sofa temannya dan kerap merasa tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Melansir Bored Panda, pria itu berjuang untuk mencari pekerjaan, tapi hanya bisa menjadi pelatih pribadi sebulan kemudian.

Sponsored Ad


Hingga akhirnya semua jawaban akan apa yang Mena butuhkan muncul dalam mimpi. Dalam tidurnya, Mena melihat mendiang neneknya, yang menunjukkan kepadanya sebuah video aneh pada sebuah proyektor film lama. Gambar yang dilihatnya adalah Spider-Man, berjalan menuju rumah sakit anak-anak di mana ribuan anak-anak tinggal.

Sponsored Ad

“Dia mulai berayun membawa sukacita melalui lelucon, mainan, dan mengambil foto,” kata Ricky. Merasa bingung, Mena bertanya pada neneknya apa yang harus dilakukannya dengan film itu. Neneknya segera memberi jawaban: “Itu kamu dan ketika kamu bangun, itulah yang akan kamu lakukan.”

Sponsored Ad


Dan itulah yang dilakukan Mena telah dilakukan selama lebih dari 4 tahun. Dia menjual mobilnya untuk mendapatkan kostum pertama, yang harganya 1.400 Dolar AS atau sekitar 19 juta Rupiah. Awalnya ada banyak rintangan yang ditemui Mena. Ia sempat ditolak rumah sakit pertama, tetapi dia tidak menyerah.

Sponsored Ad

Dan perlahan, tapi pasti dia mulai diundang dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Sejak 2014, Mena telah mengunjungi hampir 10.000 anak-anak yang sakit. Ia mendirikan organisasi non-profit yang diberi nama ‘Heart of a Hero’. Mena berbagi cerita tentang anak-anak yang dia kunjungi.

Sponsored Ad

Dia mencoba untuk membawa sukacita dan memberi hadiah pada anak-anak, yang dia beli dengan uang hasil donasi yang telah terkumpul. Mena berhasil mengisi hati anak-anak dengan kebahagiaan, tapi tetap saja ada sisi yang memilukan dari cerita itu.

Sponsored Ad

Banyak anak-anak yang ia temui harus menyerah dengan penyakitnya dan meninggal dunia. “Saya benar-benar memegang Darry saat dia mengambil napas terakhirnya,” Mena menjelaskan. Dalam perjalanannya melakukan kebaikan, Mena sempat didiagnosis dengan PTSD, kecemasan dan depresi.

Tapi ia terus berjalan dan tidak menyerah, karena dia percaya pada pekerjaannya. “Hidup saya adalah milik mereka dan perjalanan berlanjut” kata Mena. Dan tanggapan orang terhadap pekerjaannya sangat positif. Siapapun kini dapat membantunya dengan menyumbang ke organisasinya.

Sumber : Tribun

Kamu Mungkin Suka