Ibu Mertua Marah Gak Dikasih Uang! Saat "Kebenarannya" Terungkap, Ia Menyesal!

Suamiku adalah satu-satunya orang yang pernah kuliah di desanya. Adik laki-lakinya sudah menikah dan punya anak saat suamiku masih kuliah. Aku dan suami beda 5 tahun.

Ibu mertuaku adalah orang yang sulit diajak bergaul, ia juga tidak begitu setuju dengan pernikahanku dan suami. Orang-orang di desa merasa bahwa orang terpelajar pasti punya masa depan yang baik. Kedua orang tuaku juga merasa suamiku adalah orang yang memiliki potensi. Setelah suami membeli rumah di kota, ibu mertua baru menyetujui pernikahan kami.

Sponsored Ad

Setelah menikah, aku dan suami tinggal di kota. Aku ini cuma lulusan SMA, lewat teman suami, aku diberikan pekerjaan untuk menjual baju dan pekerjaan suamiku sangatlah lancar. Kehidupan kami berdua semakin membaik. Aku pernah berdiskusi dengan suamiku untuk memindahkan ayah dan ibunya ke kota agar kami bisa mengurusnya karena umur mereka yang semakin lanjut usia. Tapi, baru tinggal beberapa hari, ayah dan ibu tidak terbiasa dan mereka kembali lagi ke desa untuk tinggal sama putra keduanya.

Sponsored Ad

Suamiku ini adalah anak yang berbakti. Selama beberapa tahun terakhir ini kami menghemat uang karena suami ingin membelikan rumah untuk ayah dan ibunya. Aku masih punya adik laki-laki, jadi suami menyelesaikan renovasi rumah kami terlebih dahulu. Tapi, aku tahu dia selalu merasa sudah berlaku tidak adil dengan keluarga adik laki-lakinya.

Sponsored Ad

Suatu hari, aku mengundang adik ipar beserta istrinya untuk makan malam bersama di rumah. Aku tahu bahwa mahar adik ipar sudah dijual semua untuk biaya kuliah suami, jadi aku berdiskusi dengan suami untuk memberikan uang kepada ayah, ibu dan adiknya setiap bulan karena kondisi keuangan kita yang sangat stabil. Suamiku pun menyetujuinya.

Kemarin adalah ulang tahun ibu mertua. Aku dan suamiku membelikannya kue ulang tahun dan izin kerja supaya bisa pulang untuk merayakan ultah ibu mertua. Sesampainya di rumah mertua, adik ipar ternyata sudah memasak banyak makanan enak dan membuat suasana rumah jadi meriah.

Sponsored Ad

Mereka memberitahuku bahwa mereka sebenarnya mengundang ayah dan ibuku, tapi orang tuaku bilang belum pasti datang. Aku tahu sebenarnya kedua orang tuaku tidak begitu suka dengan ibu mertua, jadi tidak datang. Tapi, aku bilang ke adik ipar bahwa kedua orang tuaku sudah tua dan gak bisa makan daging, jadi mereka gak datang.

Waktu mulai makan, aku menyelipkan amplop merah untuk ibu mertua supaya dia senang. Ibu mertua senangnya sampai membuka amplop itu di depan kita semua. Pas lihat isi amplop cuma 2 juta rupiah, ibu mertua melihat ke arah istri dari adik ipar dan bertanya, "mana punyamu?"

Sponsored Ad

Lalu, istri adik ipar menjawab bahwa dia belum siap untuk memberikan amplop merah. Tiba-tiba ibu mertua berdiri dan hendak memukulnya, suamiku langsung menghalangnya dan berteriak: "Ma, jangan!"

Di mata ibu mertua, anak yang lulus kuliah itu dipandang lebih tinggi. Lalu, suamiku berkata, "ma, selama ini mama tinggal sama papa dan adik. Sekarang di rumah cuma adik yang bekerja, aku mau membantunya, tapi dia gak mau, jadi aku pun memberi uang tiap bulan untuk mama, tapi mama sepeser pun gak bagi ke mereka. Makanan di meja hari ini harganya 400-500 ribu rupiah, tapi mama masih minta amplop merah sama mereka? Setelah Yuli (nama istri adiknya) menikah sama adik, dia menjual maharnya untuk bantu biaya kuliah aku, apakah dia ada mengeluh? Apa mama bisa cari menantu sebaik ini?"

Sponsored Ad

Ibu mertua pun menunduk dan diam. Yuli juga menunduk sambil menyeka air matanya. Aku berpikir pasti sulit buat Yuli yang harus menghadapi ibu mertua setiap hari.

Sumber: clicknews