Habis Masukin Ibu ke Panti Jompo, Ia Menyesal Lihat "Kelakuan Istri" di Rumah!

Ketika Adi pulang kerja, ia tak sengaja mendengar percakapan istri (Dewi) dengan ibunya dari balik pintu:

Dewi berkata pada ibunya dengan nada keras: masak hambar dikit, mama bilang gak enak, masak asin dikit, mama bilang gak bisa telan, mama maunya apa sih?

Begitu Adi datang, ibunya langsung cepat-cepat memasukkan makanannya ke dalam mulut. Lalu, Adi mencoba memakan masakan Dewi dan langsung memuntahkannya lagi. Ia berbalik badan dan berkata pada Dewi, "Aku sudah bilang mama gak bisa makan terlalu asin!"

"Yaudah! Itu mama kamu, lain kali kamu aja yang masak!" ujar Dewi kesal dan langsung masuk ke dalam kamar.

Lalu, Adi berkata pada ibunya dengan lembut, "ma, jangan dimakan lagi, aku masak mi buat mama."

Ibunya berkata, "nak, bukannya ada sesuatu yang mau kamu sampaikan ke mama? Bilang aja, jangan simpan dalam hari."

Adi menjawab, "ma, minggu depan aku naik jabatan jadi aku bakal sibuk, Dewi juga ada bilang pengen kerja lagi, jadi…."

Ibunya seperti mengerti perkataan Adi dan langsung berkata, "nak, jangan bawa mama ke panti jompo."

Lalu, Adi diam sejenak mencari alasan yang tepat dan berkata, "ma, panti jompo gak buruk loh sebenarnya. Setelah Dewi kerja, nanti mama gak keurus dengan benar. Di panti jompo ada orang yang udah nyiapin semuanya, lebih enak dari rumah kan?"

Ibu berkata, "tapi…."

Adi pun bergegas mandi dan setelahnya langsung buru-buru makan mie instan. Lalu, Adi pergi ke ruang buku dan berdiri menghadap jendela dengan tatapan kosong. Ada sedikit keraguan di hatinya…

"Ibumu sudah tua, entah berapa lama lagi umurnya, kenapa tidak jadi anak yang berbakti sama orang tua? Rawatlah ibumu dengan baik." Begitulah kalimat yang selalu didengar Adi dari kerabat dekatnya.

Adi pun tidak berani memikirkannya lagi, ia takut akan merubah keputusannya.

Keesokan paginya, Adi mengajak sang ibu ke panti jompo.

Semakin banyak uang digunakan, Adi baru sadar. Ketika ia mengajak ibunya masuk ke aula panti jompo, sebuah TV 42 inci sedang memutar film komedi, tapi tidak ada orang yang tertawa di sana. Baju yang dipakai sama, potongan rambutnya sama, semua ekspresi orang tua di sana memancarkan kesepian. Ada orang tua yang sedang bicara sendiri, ada yang lagi perlahan membungkuk untuk mengambil biskuit di lantai.

Adi tahu bahwa ibunya suka dengan cahaya matahari, jadi ia memilih kamar yang cerah untuk sang ibu. Jendela luar menghadap ke bayangan pepohonan yang rindang, sejuk dan asri. Di bawah sana bisa terlihat beberapa perawat yang sedang mendorong kursi roda, tapi suasananya sangat tenang dan terasa sepi!  

"Ma, aku pergi dulu ya!" kata Adi. Ibunya pun hanya bisa mengangguk. Saat Adi pergi, ibunya melambaikan tangannya. Satu patah kata pun tak terucap.

Pada saat ini, Adi baru memperhatikan bahwa rambut ibunya sudah memutih semua, wajahnya penuh dengan keriputan halus. Mama ternyata sudah tua!

"Mama jangan tinggalin aku! Mama jangan pergi!" Akhirnya, ibunya tidak tinggalin dia.

Ia pun cepat-cepat menutup pintu kamar ibunya dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia takut ingatan itu akan terus membayanginya.

Sesampainya di rumah, Adi melihat istri dan ibu mertuanya sedang asik membuang semua barang dari kamar ibunya.

"Cukup! Jangan dibuang lagi!" teriak Adi pada istri dan ibu mertuanya.

Ibu mertua pun berkata tanpa perasaan bersalah, "ada banyak sampah di sini, kalau gak dibuang semua, gimana aku bisa taruh barangku?"

Istrinya berkata, "iya kan! Sekarang kamu pindahin kasur bekas mamamu itu keluar, besok aku mau pasang kasur baru buat mamaku."

Adi melihat ada bingkai foto dia waktu kecil di kamar ibunya. Foto itu diambil waktu dulu ia pergi ke kebun binatang dan taman bermain bersama ibunya. Lalu, ia pun berkata, "ini semua adalah barang mamaku, gak boleh dibuang!"

"Kamu ini gimana sih? Bisa-bisanya teriak di depan mamaku. Aku mau kamu minta maaf sama mama!"

"Aku nikahin kamu juga untuk menyayangi ibumu, apa kamu gak bisa menyayangi ibuku juga?"

Suasana malam setelah hujan sangatlah dingin dan sepi. Jalanan basah dan hanya sedikit mobil yang berlalu lalang. Adi pun bergegas ke panti jompo untuk menemui ibunya. Sesampainya disana, ia segera naik ke atas dan membuka pintu kamar ibunya..

Terlihat ibunya sedang mengusap kakinya dengan raut wajah sedih. Ketika melihat Adi datang sambil membawa obat usap kakinya, ibunya langsung senang dan berkata, "mama lupa bawa obat mama, untung kamu bawa!" Lalu, Adi langsung masuk dan berlutut di hadapan ibunya.

"Nak, sudah malam sekali, mama pake obatnya sendiri aja. Besok kamu masih harus kerja lagi. Pulanglah sana!"

Adi pun menangis sambil berlutut, "ma, maafin aku, ayo kita pulang!"

Seiring berjalannya waktu, usia orang tua kita pun juga bertambah. Dari yang wajahnya mulus, kini berubah banyak keriput, dari rambut hitam kini mulai memutih banyak. Dari yang cepat, sekarang jadi lambat. Sungguh menyedihkan!

Sebenarnya yang orang tua kita butuhkan tidak banyak, kadang mereka cuma butuh pertanyaan sederhana "pa, ma, apa kabarnya hari ini?" Ajaklah mereka makan malam sekali-kali, atau masak makan untuk mereka, bantu selimuti mereka saat malam hari, bantu pakaikan baju, sepatu, dan lain-lain. Itu semua bisa membuat orang tua merasa senang loh!

Dulu waktu kamu kecil orang tua sudah merawatmu, sekarang adalah waktunya kamu menjaga orang tua. Bagaimana kamu memperlakukan orang tua adalah bagaimana cara anak kamu memperlakukanmu di masa depan.

Semoga kita semua bisa menghormati dan berbakti pada orang tua. Hidup ini tidak menuntut kita untuk jadi yang terbaik, hanya ingin kita bisa melakukan upaya terbesar.

Sumber: gohealth