Miris, "Kota Ini" Memisahkan Penduduk Miskin dan Kaya dengan "Tembok 10 KM"!

Tembok ini dijuluki sebagai "Wall of Shame" kedua, yang bila di-Indonesiakan berarti "Dinding Rasa Malu". Wall of Shame pertama adalah tembok pemisah Berlin barat dan Berlin timur yang dibangun karena perang dingin, yang setelahnya diruntuhkan oleh penduduk Jerman.

Sponsored Ad

Ternyata sejarah Tembok Berlin kembali berulang lagi. Bukan di Jerman, tapi di Peru.

Tembok ini dibangun di tengah-tengah kota Lima, ibu kota Peru, memisahkan daerah San Juan de Miraflores dan Surco. Selain disebut sebagai Wall of Shame, dinding ini juga disebut sebagai Tembok Berlinnya Peru.

Sponsored Ad

Tembok tebal setinggi 3 meter ini dibangun sepanjang 10 km dan juga dipasangi kawat berduri.

Sponsored Ad

Siapa sangka, alasan pembangunan tembok ini adalah para penduduk kaya ingin memastikan keamanan harta dan rumah mereka. Mereka ingin mencegah terjadinya kriminalitas yang dilakukan orang miskin dengan tembok ini.

Namun, alasan ini kedengarannya seperti penghinaan bagi para penduduk miskin. 

Sponsored Ad

Seseorang sempat menggunakan Drone untuk mengambil video menelusuri dinding ini. Terlihat perbedaan yang signifikan dari kedua wilayah ini.

Media setempat pernah menyindir seperti ini, "Rumah kayu di sebelah diterangi cahaya lilin tampak sangat kontras dengan rumah mewah bernilai jutaan pound di wilayah sebelah."

Sponsored Ad

Selain memiliki arti diskriminasi, tembok ini telah menjadi penghalang besar interaksi antar kota. Mereka harus memutar sangat jauh untuk datang ke kota seberang.

Berbagai aksi protes telah dilakukan, baik oleh warga lokal ataupun warga dari luar negeri. 


Sponsored Ad

Para pemrotes sempat menuliskan isi hati mereka di dinding pembatas tersebut dengan bunyi seperti ini, "Negaraku adalah milikmu, negaraku adalah milikku, negaraku adalah milik semua orang."

(My country is yours, my country is mine, my country is everybody's) 

Sponsored Ad

Dalam aksi protes ini, anak-anak juga dipanggil untuk menggambar dan melukis dinding ini agar terlihat lebih mencolok.

Sponsored Ad

Lihatlah betapa senangnya mereka karena diberi kesempatan untuk melukis dinding! Mungkin saja mereka tidak tahu arti sebenarnya dari dinding ini. 

Sponsored Ad

Yang mereka tahu adalah akhirnya diizinkan para orang dewasa untuk menggambar!

Mereka tidak tahu bahwa, sejak dini mereka sudah dibedakan oleh orang lain. Apakah kondisi ini adil untuk mereka?

Menurut Oxfam, organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk memerangi kemiskinan dunia, wilayah Amerika Latin dan Karibia memiliki perbedaan upah terbesar di dunia. Menurut data statistik mereka, 1% dari orang terkaya memiliki 41% dari jumlah total kekayaan seluruh wilayah. Sedangkan 99% lainnya hanya memiliki 59% dari jumlah total.

Ironisnya, walaupun mendapat banyak petisi dari beberapa negara, pihak "Kaya" sama sekali tidak peduli dan tidak berniat untuk merobohkan tembok ini.


Sekalipun jarak antara si kaya dan si miskin terlalu besar, tidak perlu juga bagi mereka untuk membangun tembok seperti ini. Tembok ini adalah tanda dari diskriminasi dan hanya menciptakan rasa tidak nyaman bagi banyak orang.

Walaupun masalah ini cukup pelik, tapi semoga seiring dengan waktu, pemerintah bisa tergerak untuk menangani masalah diskriminasi yang cukup besar ini.

Sumber: coco

Kamu Mungkin Suka