Petani Ini Merawat Kuburan Tak Dikenal, Tak Lama Kemudian Ia Menerima Banyak Keberuntungan

Lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin selama hidup di dunia walau kita tidak tahu kapan dan seperti apa balasan manis yang akan kita dapatkan.

Sponsored Ad

Seperti kisah yang terjadi di Taiwan beberapa waktu lalu. Seorang petani tua berusia 70 tahun yang bernama Lai Guohe membeli setengah bidang lahan pertanian seluas kurang lebih 1,467 ping-satuan ukuran Taiwan atau sekitar 4849.5 meter persegi.


Ketika membersihkan lahan dan akan melakukan renovasi, ia menemukan sebuah makam kuno di antara gundukan rumput liar. Makam yang diperkirakan berusia 140 tahun itu tidak pernah dibersihkan dalam beberapa tahun terakhir. Lai berinisiatif menyapu makam kuno itu kemudian membakar uang kertas dan dupa.

Sponsored Ad

Lai melakukan tradisi seperti merawat makam leluhurnya sendiri. Beberapa tahun lalu, Lai membangun rumah kaca di lahan pertaniannya untuk menanam timun. Anehnya, ketika mentimun itu ditanam di rumah kaca, ia bisa memanen dua kali setiap tahun, tetapi ketika memasuki masa istirahat, mentimunnya justru tidak berkurang, dan meskipun memasuki periode penanaman ulang, ia masih saja bisa memanen, sehingga membuatnya tersenyum sambil berkata, "Mungkin ini adalah berkah dari kebaikan!"

Sponsored Ad

Lai Guohe memutuskan akan menyembahyangi makam kuno itu setiap hari/perayaan Qing Ming atau Ceng Beng (Ziarah tahunan etnis Tionghoa). Namun, seorang petani bermarga Xie di Matou mengatakan, mungkin karena cuaca dalam beberapa hari terakhir ini relatif tidak stabil, sehingga membuat pertumbuhan tanaman juga tidak wajar, tapi tentu saja termasuk faktor lain.  Misalnya kualitas tanah, pola penanaman dan sebagainya.

Sponsored Ad


Sementara netizen yang membaca kisah Lai berkomentar, “Terlepas ada hubungannya atau tidak, itu adalah sebuah hal yang baik. Saya lebih memilih untuk percaya pada hal yang nyata, orang yang berbuat baik pasti akan mendapat balasan berkah baik.”


Yap! Apa yang ditabur, itulah yang dituai. Kebaikan akan kembali berupa kebaikan, bukan hanya dalam bentuk materi saja. Bisa saja dalam bentuk keselamatan atau semacamnya. Orang yang melakukan kejahatan pun demikian, akan kembali mendapatkan kejahatan lagi, jika bukan ia yang merasakan, bisa saja keluarganya yang merasakan.

 

Sumber : Erabaru


Kamu Mungkin Suka