Semakin Diatur, Anak Semakin Nakal? Ini "4 Cara" Agar Anak Nurut! Ternyata Mudah!

Bagi banyak orang tua, membesarkan anak adalah proses sulit.


Ketika anak masih kecil, sosoknya yang imut dan suka menempel dengan orangtua memang menggemaskan. Hal ini membuat orangtua berharap seperti anaknya ketika mereka beranjak dewasa.

Sponsored Ad


Namun ketika anak itu berusia 4, 5 tahun, mereka bisa berubah dan jauh dari yang dipikirkan.

Sponsored Ad

Setiap hari baju bersih hanya bisa bertahan sampai siang saja. Anak-anak sudah bisa adu mulut dan berisik bukan main. Kalau marah sangat keras kepala dan sebagainya.

Yang bikin orang tua kesal adalah: semakin diatur, anak semakin tidak mau mendengarkan orang tua.

Meskipun anak mengaku salah, namun beberapa hari kemudian, anak akan melakukan hal yang sama.

Mengapa hal ini bisa terjadi?


Sponsored Ad

Sebelum menyelesaikan masalah ini, ibu Yo akan menunjukkan sedikit pengetahuan psikologis menarik - "Jangan pikirkan tentang gajah pink".


Ini adalah eksperimen psikologis yang terkenal, namanya adalah "Jangan pikirkan tentang gajah pink". Psikolog memanggil sejumlah besar sukarelawan dan mengatakan kepada mereka, "Di depan rumah Anda ada gajah berwarna pink. Untuk periode waktu berikutnya, saya meminta Anda untuk mengendalikan pikiran Anda. Jangan berpikir tentang hal ini, sekalipun juga jangan."

Sponsored Ad


Akibatnya, para sukarelawan merasa sulit melakukannya. Karena melarang seseorang untuk melakukan sesuatu juga membangkitkan rasa ingin tahu yang kuat.

Sponsored Ad

Mental anak yang tidak matang mudah menerima saran dari "larangan". Oleh karena itu, orang tua mengatakan "Jangan lakukan ini" dan "Jangan lakukan itu" sepanjang hari.

Jadi apa yang harus orangtua lakukan?

Sebenarnya, kebanyakan anak tidak benar-benar nakal, tetapi mereka bersikap seperti itu karena cara orang tua berkomunikasi tidak benar. Sering kali, cara membuat anak patuh itu sangat sederhana.


Sponsored Ad

Berikut ini beberapa kiat untuk komunikasi orang tua-anak yang dapat membantu Anda:

Instruksi jangan dikatakan dua kali

Ketika anak sedang nonton TV dan lupa tulis PR, banyak orangtua yang suka berteriak dan berkata berulang-ulang kali, "Cepat, tulis PR", "Jangan nonton TV terus, nanti kabelnya ibu gunting ya!", "Masih nonton? Mau dibilangin berapa kali sih!"

Setiap hari menyalahkan anak, pada akhirnya, anak-anak akan terbiasa dan susah berbuah.

Sponsored Ad


Semakin singkat dan gampang instruksi kita, semakin ada kekuatan di dalamnya. Kalau diulang-ulang terus, maka instruksi itu semakin tidak ada gunanya. Seperti jenderal memberi instruksi kepada prajurit, "Berdiri tegak!". Jelas dan singkat.

Lain kali ketika memberi instruksi kepada anak, kamu bisa melakukan langkah-langkah ini:

1. Berhenti melakukan apa yang sedang kamu lakukan dan tatap mata anak.

Sponsored Ad

2. Tunggu sampai anak menyadari suasana sudah berubah dan ketika anak menatap kamu, minta anak untuk melakukan instruksi tersebut. Dengan sederhana, ucapkan sekali saja, "Nak, matikan TV dan buat PR."

3. Minta anak untuk mengulangi permintaan yang baru saja kamu katakan.

4. Jika anak tidak bergerak, terus berdiri disampingnya sambil menatapnya.

5. Biasanya, sampai titik ini anak akan menyerah. Pada saat ini, pahami periode lembut psikologis, "Ibu tahu kamu anak yang baik. Yuk, buat PR."

Sponsored Ad

Kenali emosi anak

Ketika anak tidak nurut, coba katakan, "Apakah kamu merasa marah?", "Apakah kamu merasa tidak senang?" ini artinya membantu anak mengekspresikan emosi mereka.


Anak-anak muda tidak tahu bagaimana mengekspresikan dan melampiaskan emosi mereka dengan benar. Jadi ketika mereka merasa kesal, mereka akan sengaja mencari gara-gara. Jika orang tua dapat membantu mengekspresikan emosi anak-anak, maka anak-anak akan merasa dimengerti dan diperhatikan. Selain itu, ini juga akan mengajari anak bagaimana cara mengekspresikan emosi mereka.

Selain mengkritik anak, berikan peringatan

Orang tua boleh mencoba suka mengekspresikan emosinya lebih seperti, "Ibu merasa kesal, ibu suruh kamu ngapain, kamu malah terus nonton TV."


Pada saat ini, anak tahu bahwa ibunya telah marah dan konsekuensinya akan menjadi serius.

Berikan anak pilihan

Ketika kita mengkritik anak-anak, kita selalu berkata, "Apakah kamu tahu apa salahmu?" "Tidak, pikirkan lagi, dimana kesalahanmu?"


Ketika anak ditanya seperti ini, mereka yang bingung benar-benar tidak tahu dimana kesalahan mereka, apalagi memperbaiki kesalahan mereka.

Pada saat ini, kamu bisa berkata, "Kamu punya dua pilihan. Pertama kamu boleh terus nonton TV, tetapi minggu depan kamu tidak boleh nonton. Kedua, Matikan TV dan buat PR. setelah itu, kamu boleh lanjut nonton TV lagi selama setengah jam. Pilih satu."

Mendidik anak-anak adalah kegiatan yang sulit. Semakin cemas orangtua, semakin tidak efektif. Dengan kesabaran dan pengetahuan, masalah baru dapat diselesaikan. Yuk, SHARE dan LIKE!

Sumber: twgreatdaily