Sejak Kecil Ia Sudah "Dibuang". 20 Tahun Kemudian, Ia Lakukan "Hal Ini" Pada Ibunya!

Aku lahir di keluarga yang tidak terlalu kaya. Ayahku masih punya seorang adik laki-laki, yaitu pamanku. Dulu rumah kami berdekatan, jadi aku sering ke rumah paman untuk main sama sepupu.

Ibuku adalah orang yang cemburuan. Waktu itu, keluarga paman memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding keluarga kami. Jadi, ibu melarangku untuk main ke rumah paman. Setiap kali paman baik terhadapku, itu seperti tamparan keras bagi ibu. Meskipun ibu sedikit keterlaluan terhadap keluarga paman dalam beberapa hal, tapi paman tidak pernah mempermasalahkan ibuku.

Saat aku berusia 8 tahun, ayahku dipanggil Yang Maha Kuasa. Tak berapa lama kemudian, ibu menikah lagi. Tapi, kehidupanku tidak semakin membaik karena ayah tiri tidak suka padaku. Meskipun latar belakang keluarga ayah tiri baik, tapi dia tidak pernah baik terhadapku. Walaupun ibu tahu ayah tiri seperti itu, tapi ibu tidak bisa berbuat apa-apa karena ibu tidak mau mengalami masa-masa sulit seperti dahulu kala, jadi dia lebih memilih menyalahkanku, putra semata wayangnya.

Kadang ayah tiri marah padaku dan ibu malah semakin mengatakan yang tidak baik tentangku kepadanya. Karena paman masih menyayangiku, jadi dia masih sering berkunjung untuk melihat keadaanku. Terakhir, ibu ada sedikit tidak menyukaiku dan menyerahkanku pada paman. Ibu tidak mau mengurusku lagi…

Dengan begitulah aku menjadi anak di rumah paman. Paman dan bibi sangat baik terhadap aku dan sepupuku. Mereka tidak membedakan perlakuan, semua sama-sama sayang. Semenjak aku tinggal dengan paman, ibu gak pernah mengunjungiku sama sekali. Belakangan aku dengar bahwa ibu melahirkan seorang anak laki-laki lagi, aku pun berpikir bahwa di hati ibu pasti sudah tidak ada aku lagi. Umurku dan adik sepupu gak beda jauh, jadi paman mengatur kami masuk dalam kelas yang sama supaya bisa saling jaga.

Kemudian, aku dan adik sepupu sama-sama lulus ujian masuk perguruan tinggi. Aku tahu bahwa jika kami berdua sama-sama kuliah, itu akan jadi beban ekonomi untuk paman, akhirnya aku memutuskan untuk tidak kuliah. Tapi, paman marah dan menyuruhku harus kuliah, akhirnya aku menyerah dan menuruti perkataan paman. Setelah lulus kuliah, aku langsung dapat pekerjaan yang cukup baik. Aku tahu aku bisa sampai disini semua berkat paman. Di hatiku paman sudah seperti ayahku sendiri.

Waktu adik sepupuku menikah, aku memberikannya sebuah rumah sebagai mas kawin. Karena latar belakang dari suami adik sepupuku bukan yang sangat baik dan adik sepupu adalah putri satu-satunya paman, jadi aku ingin dia punya kehidupan yang lebih baik. Keluarga paman juga pasti akan senang. Tapi, dengan hadiah rumah ini, paman sempat menyuruh adik sepupu untuk menolaknya, tapi aku menarik tangan paman dan berkata bahwa kalau bukan paman yang mengajakku ke rumahnya, aku tidak tahu seberapa susah hidupku. Sekarang aku punya kemampuan, sudah saatnya aku membantu paman. Bagiku, paman dan bibi sudah seperti ayah dan ibu kandungku sendiri, adik sepupu sudah seperti adik kandungku. Sekarang adik mau menikah, sebagai kakak, aku harus menyiapkan ini untuk adik.

Akhirnya, paman mau menerima hadiah pemberianku ini. Tapi, tidak tahu darimana, ibuku tahu bahwa aku memberikan sebuah rumah untuk adik. Ibu pun datang ke rumah paman untuk cari ribut. Ibu berkata bahwa dia yang berhak atas rumah itu karena dia ibu kandungku. Setelah mendengar kabar keributan ini, aku segera pulang ke rumah paman dan setelah 20 tahun lamanya, aku akhirnya bertemu ibuku untuk pertama kalinya. Penampilan ibuku lebih tua dari bayanganku. Melihat aku datang, ibuku menangis dan menyesal akan perbuatannya, ibu minta maaf padaku dan minta rumah itu diberikan untuknya. Ibu juga berjanji akan merawatku dengan baik.

Mendengar perkataan ibu, aku tidak bisa menahan perasaan sedih ini. Aku tidak menyangka selama bertahun-tahun tidak mencariku, kalimat pertama yang ia ucapkan adalah dia ingin rumah. Aku pun bertanya pada ibu dengan marah, apakah ibu layak jadi seorang ibu? Dulu waktu masih ada ayah, ayah yang susah payah merawatku, setelah ayah tiada, ibu malah menikah lagi. Dan jelas-jelas ibu tahu bahwa ayah tiri tidak suka padaku dan berlaku tidak baik, tapi ibu malah memilih menutup mata. Selain melahirkanku, apa yang pernah ibu lakukan? Ibu sama sekali tidak layak jadi seorang ibu. Sekarang ibu cuma melihat kesuksesanku baru memohon untuk kembali. Coba kalau aku sekarang miskin, apakah ibu masih mengenali anakmu ini?

Dicecar pertanyaan seperti ini, ibu pun cuma bisa diam dan terus menangis. Setelah itu aku menyuruh ibu pulang. Di matanya memang tidak ada anaknya ini, dia cuma mau hartaku. Yang perlu aku hormati adalah paman dan bibi yang sudah merawatku sampai sekarang, bukan ibu yang membuangku!

Sumber: foyuan