​Anak Cewek Sudah Usia 12 Tahun Masih Ribut Mau "Tidur Sama Papa"! Ternyata Begitu Tahu "Alasannya", Langsung Cerai!

Usia 12 tahun adalah saat dimana anak perempuan mulai memasuki usia remaja. Banyak perubahan fisik dan psikologis yang dialami, juga sifat mandiri dan individualitasnya mulai terbentuk. Oleh karena itu, sudah seharusnya anak usia 12 tahun, tidak peduli laki-laki atau perempuan, untuk tidur di kamar sendiri.

Sponsored Ad

Bapak Lukman memiliki seorang putri berusia 12 tahun. 5 tahun lalu, ia cerai dengan istrinya. Hak asuh anak jatuh ke tangannya. Seorang diri, ia membesarkan putrinya selama 3 tahun.

Walaupun ia mengurus putrinya dengan sangat baik, namun seiring putrinya tumbuh besar, ia merasa harus mencarikannya seorang ibu, karena ia sendiri sebagai seorang laki-laki, pasti ada hal yang tidak ia ketahui dan tidak bisa ia ajarkan kepada putrinya. Alangkah baiknya jika ada seorang ibu yang bisa merawat dan mengajar putrinya. Untuk itu, tepat di usia putrinya 11 tahun, ia menikah lagi.

Sponsored Ad

Setelah tinggal bersama untuk beberapa waktu, ia merasa istri barunya cukup baik terhadap putrinya. Ia kemudian mempercayakan putrinya kepada istri barunya dan fokus kerja untuk cari lebih banyak uang. Boleh dibilang kehidupannya mulai membaik dan mulai seperti sebuah 'keluarga'.

Namun tak lama kemudian, ada satu hal yang membuatnya heran. Biasanya putrinya mau tidur sendiri di kamarnya, namun akhir-akhir ini, putrinya bersikeras mau tidur sekamar dengannya.

Sponsored Ad

Ia pun menjelaskan pada putrinya kalau ia sudah besar, tidak bisa seperti anak kecil lagi masih tidur sama orang tua, tapi putrinya tidak mau dengar malah ngambek.

Sponsored Ad

Awalnya ia pikir mungkin karena ia sering dinas keluar kota, jarang menemani putrinya, jadi putrinya kangen dan nempel terus. Tapi walaupun ia setiap hari pulang ke rumah, tidak keluar kota, putrinya tetap mau tidur dengannya. Ia merasa ada yang aneh, soalnya putrinya dari kecil sudah terbiasa tidur pisah kamar, kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti ini?

Sponsored Ad

Akhirnya begitu ditanya berulang kali, barulah putrinya mau mengatakan yang sebenarnya. Ternyata setiap kali ia tidak di rumah, ibu tirinya seringkali bersikap jahat terhadapnya, menuntutnya mengerjakan pekerjaan rumah, kalau tidak mau, ia akan dimarahi atau dipukul.

Sponsored Ad

Mendengar pengakuan putri kesayangannya, ia baru sadar dan merasa bersalah. Yang tadinya pikir mau carikan anaknya seorang ibu yang bisa sayang padanya, ternyata yang ada malah disakiti. Untuk itu, ia pun dengan tegas menceraikan istri barunya.

Perceraian orang tua biasanya akan meninggalkan luka bagi anak. Apabila orang tua memutuskan untuk menikah lagi dan orang itu bersikap tidak baik terhadap anak, maka itu akan menjadi luka lagi bagi anak. Oleh sebab itu, orang tua benar-benar harus memikirkan 'anak' sebelum memutuskan untuk menikah lagi.

Sponsored Ad

Anak yang orang tuanya bercerai lebih cenderung memiliki masalah psikologis, seperti tidak percaya diri, merasa ditinggalkan, menyimpan perasaan benci, dan emosi negatif lainnya. Emosi-emosi ini akan mempengaruhi tubuh dan pikiran anak. Kalau salah satu dari orang tua tidak melaksanakan tanggung jawab mereka atau memberikan anak kasih sayang yang cukup, maka secara alami, anak itu akan tumbuh jadi anak yang memiliki masalah, seperti itu tadi, tidak percaya diri atau tempramental.

Sponsored Ad

Rasa kurang percaya diri ini bukan hanya berpengaruh ke kehidupan anak tapi juga prestasinya, misalnya kurang disiplin, tidak mau diajar, keras kepala, tidak mudah berbaur dan sensitifan terhadap orang lain.

Tidak sedikit juga dari anak-anak ini yang memilih untuk menyendiri atau mencari pelampiasan untuk mengisi 'kekosongannya' di luar sana, misal terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik. Luka ini akan ada selamanya dan sulit untuk dipulihkan, apalagi anak-anak yang sejak kecil ditinggalkan oleh kedua orang tua.

Sponsored Ad

Sebelum bercerai atau menikah lagi, pikirkan perasaan 'anak'. Punya orang tua baru belum tentu lebih baik bagi anak. Sulit menemukan orang yang bisa baik sama yang 'bukan anaknya sendiri'. Lebih baik urus sendiri daripada menyerahkan anak pada seseorang yang tidak betul-betul sayang padanya, seperti bagaimana Anda menyayanginya.

Sumber: healthyssky

Kamu Mungkin Suka