Mereka Berhenti Kerja dan Jual Rumahnya Demi Tinggal di Desa? "Ini" Alasannya!

Sebuah kisah inspiratif datangnya dari pasangan Tiongkok yang hidup di desa. Pasalnya mereka rela melepas pekerjaan dan menjual rumahnya, hanya untuk tinggal di desa.


Pertanyaannya, apakah alasan mereka melakukan hal senekad itu?

Sponsored Ad

Mereka adalah pasangan muda yang harmonis. Mereka memutuskan untuk pindah ke daerah China Selatan, tempat yang terpencil namun dekat dengan alam.


“Kami telah melakukan perjalanan ke banyak tempat, telah melihat banyak pemandangan, dan akhirnya menemukan surga di ini.”

Sponsored Ad

Kini, sehari-harinya ia sibuk untuk memberikan makan kuda. Ia bisa melihat awan yang biru dan burung-burung yang berkicauan.


“Hanya ada beberapa orang yang tinggal di sini. Tempatnya juga sangat damai dan harmonis, sangat cocok untuk memenuhi harapan kita berdua”

Sponsored Ad

Mereka mengaku bahwa keputusan pindah ke desa dikarenakan mereka sempat bertemu dengan seorang bocah desa. Dari pembicaraan dengan bocah itu, mereka mulai iri dan merasa kehidupan di desa itu nyaman.


Ditambah lagi karena keramaian dan hiruk pikuk kota yang ia selalu hadapi setiap hari.

Sponsored Ad

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sebuah rumah yang dibangun oleh pengrajin desa. Mereka hidup dekat dengan alam, jika haus tinggal pergi mencari mata air yang ada, jika lapar tinggal mencari makanan di hutan lalu memasaknya.


Hidup yang mereka pilih seperti balik ke jaman kuno, dimana kegiatan mereka sehari-harinya adalah memberi makan kuda dan ternak, mencuci dan memasak secara tradisional, memberi makan ayam dan memelihara anjing, dan merawat tumbuh-tumbuhan.

Sponsored Ad

“Justru di desa inilah aku malah tidak merasa kesepian, aku tidak pernah merasa bosan dan aku berhasil menemukan kebahagiaan aku sendiri”

Desa yang mereka tinggal letaknya 20 km dari kota. Ketika ia membutuhkan kebutuhan khusus, ia akan menunggangi kuda dan menghabiskan sepanjang hari untuk pergi ke kota.


Misalnya sang istri menyukai makan telur, maka ia akan ke kota dan membeli ayam lalu dibawanya ke desa untuk diternakan.

Sponsored Ad

“Saya memiliki kejadian lucu saat pertama kali membeli telur. Saya membeli 50 telur, tapi karena jalanan yang tidak mendukung, satu per satu telur itu pecah. Sampai akhirnya telur itu tersisa 10 butir saja”


Ketika mereka sedang bercanda, secara tidak sadar mereka akan saling memandang, dan berkata “inilah arti kebebasan dan cinta yang sejati!”

Sponsored Ad

Pria itu juga salut kepada istrinya, karena dari muda istrinya adalah wanita yang manja dan memiliki hidup yang mewah. Tapi ketika sang pria mengajak untuk pindah ke desa, wanita itu rela asalkan ia bersama orang yang dicintainya.


Sejak 2 tahun pindah ke desa, bisa terlihat bahwa keduanya memiliki tubuh yang semakin kurus. Karena itu, sang pria yang akan melakukan pekerjaan yang kasar dan berat, sedangkan sang istri hanya perlu beternak dan memasak di rumah.

Sponsored Ad


“Setiap kali aku memandangi kota dari lereng bukit ini, aku berasa aku telah ‘menang’ dari orang banyak. Mungkin secara materi hidup kita kalah dari orang lain, tapi aku jamin secara kebahagiaan aku dan istrikulah pemenangnya”


Sponsored Ad

Namun dibalik setiap kebebasan tinggal di desa, pria itu mengaku bahwa ia tetap memiliki aturan untuk mengunjungi rumah orangtuanya di kota.

Mereka juga masih bisa berkomunikasi menggunakan WeChat. Walaupun memang sinyal di gunung tidak baik, dan ponsel terkadang digunakan untuk kamera saja.


Dari kisah ini menandakan bahwa selama 2 orang mau selalu bersama bahkan hidup susah sekalipun, pasti selalu bisa menemukan solusi dan jalan menuju kebahagiaan!

Sumber: Lookingfoward