Penulis Wanita Ini Tidak Cantik dan Begitu Dibenci, Siapa Sangka Kisah Dibaliknya Justru Bikin Iri Sejuta Umat!

Banyak sekali penulis di dunia yang menghasilkan karya-karya yang begitu hebat. Tidak hanya penulis pria, penulis wanita pun banyak diminati.  Hanya melalui sebuah tulisan, wanita-wanita mampu memberikan pengaruhnya bagi masyarakat banyak dan menginspirasi wanita-wanita lainnya. Sebut saja nama-sama seperti Agatha Christie, J.K Rowling, Nh Dini dan Mira W.

Tiongkok sendiri pun memiliki beberapa penulis wanita yang begitu hebat, contohnya seperti Su Qing, Zhang Ailing dan Bingxin. Hanya saja, dibanding 2 penulis lainnya, Bingxin dianggap sebagai penulis yang begitu ‘sempurna’. Tidak hanya mampu menghasilkan karya tulis yang menarik, namun kisah perjalanan hidupnya pun sangat menginspirasi banyak orang.

Sponsored Ad

Bingxin lahir di keluarga yang terpandang. Kedua orang tuanya adalah seorang birokrat, maka dari itu sejak kecil Bingxin hidup berkecukupan dan kedua orang tuanya pun sangat mencintainya. Selain itu, Bingxin pun bisa mendapat pendidikan yang baik,  ia juga tergolong murid berprestasi.

Bingxin kemudian menerbitkan tulisan pertamanya saat masih berusia 19 tahun. Pada saat itulah Bingxin memulai karirnya di bidang sastra. Untuk meningkatkan kualitas tulisannya, Bingxin lalu melanjutkan pendidikan di luar negeri dan meraih gelar master dalam bidang sastra.

Sponsored Ad

Menginjak usia 20-an, Bingxin menikah dengan seorang sosiolog bernama Wu Wenzao. Wu Wenzao selalu berpindah-pindah negara, hal ini membuat Bingxin bisa lebih banyak belajar karya sastra di berbagai negara dan meningkatkan kemampuannya. Setelah menikah, Bingxin sempat menetap di Jepang, Amerika, Prancis, Inggris, Italia, Jerman dan negara-negara lainnya.

Baru sampai sini saja, perjalanan hidup Bingxin sudah cukup membuat banyak orang merasa iri padanya. Ditambah lagi, Bingxin terbilang awet menjalani kehidupan pernikahannya yang dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Bingxin dan sang suami menjalani suka dan duka bersama-sama hingga maut memisahkan. Keduanya pun merupakan pasangan yang panjang umur. Sang suami hidup sampai umur 84 tahun, sedangkan Bingxin sendiri hingga 99 tahun.

Sponsored Ad

Selama menjadi penulis, perjalanan karir Bingxin pun amat lancar dan sukses. Sejak memulai karir di bidang sastra, Bingxin tidak pernah sekalipun mendapat penolakan atau hujatan atas karya-karya yang ditulisnya. Berbeda dengan Zhang Ailing, yang saat berada di Amerika, karyanya tidak disukai dan kehidupannya pun mulai menjadi sulit. Nasib penulis wanita lainnya, Su Qing lebih tragis lagi. Su Qing bercerai dari suaminya dan harus hidup seorang diri di hari tuanya.

Sponsored Ad

Menurut beberapa orang, satu-satunya hal yang tidak ‘sempurna’ dari Bingxin adalah dirinya menikahi pria yang tidak tampan. Namun Bingxin pernah mengatakan,”Aku lebih suka lelaki seperti suamiku. Lagipula, tidak tampan menurut orang lain apa hubungannya denganku? Selera orang berbeda-beda, yang jelas di mataku, ialah pria paling tampan di dunia ini.”

Sejak lahir hingga akhir hayatnya, Bingxin selalu berada di ‘kelas atas’ dan menjalani hidupnya ini dengan baik. Ia juga adalah sosok penulis wanita yang sukses, menjalani pernikahan yang bahagia, memiliki 2 anak dan hari-harinya selalu penuh dengan warna.

Sponsored Ad

Salah satu karya tulisnya yang paling populer adalah tulisannya yang berjudul The Little Orange Lantern. Dalam karyanya ini, Bingxin menggambarkan sosok gadis yang optimis, penuh percaya diri dan pemberani. Dalam karya-karyanya Bing Xin memang terkenal untuk mengajak para pembacanya untuk mau berpikir optimis. Hal inilah yang membuat banyak orang begitu senang membaca karya tulisnya.

Bing Xin selalu menggunakan konsep CINTA dalam setiap karya tulis yang dibuatnya. Bing Xin pernah mengatakan,”Semoga setiap orang yang membaca karyaku ini bisa memiliki cinta yang tulus.”

Sponsored Ad

Walau demikian, Bing Xin ternyata tidak begitu disukai oleh penulis wanita lainnya, apalagi Zhang Ailing. Zhai Ailing pernah mengatakan,”Awalnya aku suka membawa karya tulis Bing Xin, namun begitu melihat parasnya yang tidak cantik, aku jadi kehilangan daya tarik. Bagaimana mungkin orang yang berpenampilan biasa seperti itu bisa mendeskripsikan cinta dan kecantikan dengan baik?”

Kata-kata Zhang Ailing ini pun menuai kontroversi, sedangkan Bing Xin memilih untuk tidak banyak berkomentar dan tetap melakukan apa yang dia suka, yaitu menulis. Terbukti, di hari tuanya, Bing Xin justru lebih banyak mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional atas hasil karyanya dan walau sudah tiada, nama Bing Xin tetap dielukan sebagai penulis wanita legendaris Tiongkok.

Sponsored Ad

Lagipula, apa hubungannya penampilan fisik dengan kemampuan menulis ya? Hmm… ternyata budaya nyinyir sudah ada sejak zaman dulu. >.<


Sumber: Sina