Suami "Susah Ditelpon" Tiap Pulang Kampung! Begitu "Kenyataannya Terungkap", Aku Minta Cerai!

Namaku Juli, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta dan pekerjaannya sangat mudah. Waktu kuliah, aku pernah pacaran sekali sama cowok yang keluarganya kaya raya, orangnya juga tampan, tapi sifatnya agak kekanak-kanakan.


Pacaran sama dia itu capek banget. Aku udah kayak pembantunya dia. Sampai setelah lulus kuliah, aku memutuskan hubungan dengannya. Alasannya karena ia menyuruhku untuk bekerja di perusahaan ayahnya, sedangkan ayahku tidak ingin aku jauh dari keluarga, jadi aku putusin dia.

Semenjak pacaran sama dia, aku jadi tahu bagaimana mencari orang yang tepat untukku, paling tidak orang itu harus dewasa, mapan, peduli padaku dan mau menjagaku. Dan bukan seperti mantan pacarku dulu, semuanya harus aku yang bayar.

Tak berapa lama kemudian, dibawah desakan dari kedua orang tuaku, aku akhirnya bertemu dengan suamiku yang sekarang. Suamiku tidak terlalu tampan, kulitnya sawo matang, tapi orangnya sangat perhatian, dia selalu menjagaku, aku gak perlu pusing ini itu, semua sudah diurus olehnya. Semuanya sangat indah. Kita saling berdiskusi, bertukar pikiran dan sangat cocok.

Setelah 1 tahun pacaran, kami memutuskan untuk menikah. Aku bilang mau ke rumahnya untuk kenalan sama kedua orang tuanya. Tapi, dia bilang orang tuanya yang mau ke rumahku untuk langsung ketemu sama orang tuaku. Aku pun menyetujuinya.


Dengan begitu, kedua orang tuanya datang ke rumahku untuk membicarakan soal pernikahan. Dan karena aku adalah putri tunggal, jadi ayah ingin memberikan rumah baru untuk aku dan suamiku setelah menikah. Kedua orang tuaku juga tahu bahwa keluarga suamiku ini dari desa, sehari-harinya sangat susah, mereka pun mengeluarkan 25 juta untuk hadiah lamaran. Akhirnya kami pun menikah.

Setelah menikah, aku awalnya sudah memutuskan untuk pulang ke rumah mertua pas tahun baru karena aku belum pernah ke rumah mereka sama sekali. Ditambah lagi aku sedang hamil, jadi pengen kesana. Tapi, mertua melarangku, katanya jalanan di desa gak mulus, aku sedang hamil, takut berbahaya, aku disuruh jaga kehamilanku baik-baik.

Setelah anakku lahir, aku tidak tahu cara mengurus anak yang benar, jadi aku ingin meminta ibu mertua ke rumah untuk membantuku mengurus anak, tapi suamiku malah bilang orang tuanya sibuk harus urus belasan ekor kambing ditambah lagi ada sawah. Kalau ibu mertua yang kemari, kasihan ayah sendirian urus pekerjaan di desa. Aku pun jadi kasihan dan gak tega, akhirnya aku meminta ibuku untuk membantuku.


Setelah ada anak, hari-hariku semakin sibuk, aku gak bisa kemana-mana, waktu liburan pun cuma suami yang pulang kampung, aku sendirian urus anak di rumah. Awalnya aku mau ikut pulang, tapi suami dan mertua bilang anakku masih terlalu kecil, suasana rumah di desa gak begitu baik, kasihan anaknya nanti. Tunggu anak sudah gedean, baru dibawa kesana. Aku pun menuruti nasihat suami dan mertua.

Suami ada pulang beberapa kali dalam setahun, tapi anehnya setiap dia pulang kampung, dia jadi gak bisa ditelpon! Ditelpon berkali-kali pun gak diangkat, bikin aku jadi marah! Setiap aku tanya kenapa, dia selalu jawab sibuk kerja, gak pegang HP. Meskipun alasan yang diberikannya masuk akal, tapi aku masih ragu. Apakah kehidupan di desa sesibuk itu? Sampai angkat telpon aja gak bisa? Waktu dia disini gak pernah begitu, ditelpon sekali aja pasti langsung diangkat. Aku merasa ada yang tidak beres.

Hari ini, suami pulang kampung lagi. Aku pun diam-diam menitipkan anak ke mama. Sehari setelah suami berangkat, aku pun berangkat juga. Sebelumnya, suami pernah kasih alamat rumahnya di kampung, jadi aku pun mencari alamat itu. Aku memang sengaja gak memberitahu suami supaya nantinya jadi kejutan. Setelah 10 jam perjalanan, aku pun sampai di kampung suami.

Ternyata kejutan yang aku persiapkan tidak sampai di mereka, malahan mereka yang memberikan kejutan besar untukku. Aku melihat dari kejauhan suamiku sedang mendorong kursi roda yang diatasnya duduk seorang wanita cantik. Suamiku juga terlihat membelai lembut kepala wanita itu. Mesra banget! Pada saat ini, ibu mertuaku keluar dari rumah dan tampak kaget melihat keberadaanku!

Segera aku menghampiri suamiku dan bertanya apa yang telah terjadi! Akhirnya suamiku mengakui bahwa wanita yang ada di kursi roda adalah tetangganya. Sejak kecil mereka sudah saling berjanji untuk menikah saat dewasa nanti. Namun, orang tua wanita itu menolak pernikahan ini karena melihat suamiku yang miskin. Tak lama kemudian, keluarga mereka mengalami kejadian menyedihkan, kedua orang tua wanita ini pergi untuk selamanya dan wanita ini harus duduk di kursi roda. Suamiku merasa kasihan dan akhirnya membawanya pulang untuk diurus oleh kedua orang tuanya.

Aku sangat marah, kenapa hal sebesar ini tidak diberitahu kepadaku? Pantas saja, gak kasih aku pulang ke rumah orang tuanya! Ternyata mereka menyimpan rahasia besar dan takut ketahuan olehku! Aku benar-benar tidak terima dengan kebohongan ini, aku langsung pulang ke rumah!

Setelah sampai rumah, aku sudah memikirkannya dengan matang. Bukankah suami merasa kasihan dengan wanita itu? Baiklah, lebih baik kita bercerai, jadi kamu bisa jaga dia seumur hidupmu. Dan rumah ini tetap jadi hak milikku karena ini pemberian kedua orang tuaku.

Sumber: lookforward